Bagaimana Sejarah Hari Buruh | Atenda.id

Penuh Inspirasi, wawasan dan pengetahuan

Atenda selalu memberikan yang terbaik dan terakurat untuk Anda

Home > Blog > Bagaimana Sejarah Hari Buruh

icon buruh.jpg


Bagaimana Sejarah Hari Buruh

Atenda | 30 Apr 2019

Mengapa Merayakan Hari Buruh

Maksud asli Hari Buruh adalah untuk memberikan liburan yang akan menghormati prestasi sosial dan ekonomi pekerja Amerika. Pada dasarnya, ini dimaksudkan sebagai penghargaan nasional tahunan untuk kontribusi yang telah dibuat oleh para pekerja untuk kekuatan, kemakmuran, dan kesejahteraan negara.

 

Selama revolusi industri, khususnya, Anda dapat melihat bagaimana pekerja Amerika membangun negara yang kuat dengan infrastruktur, seperti kereta api, bendungan, jalan, dan banyak lagi. Sementara orang-orang kaya dan berkuasa, seperti Andrew Carnegie sering mendapatkan pujian, para pekerjalah yang mengubah visi para lelaki hebat ini menjadi kenyataan.

 

Sejarah Hari Buruh Internasional

Ada perselisihan tentang siapa yang awalnya memikirkan gagasan tentang peringatan Hari Buruh tahunan. Menurut Departemen Tenaga Kerja, dua pria diajukan sebagai pencetus ide tersebut. Salah satunya adalah Peter J. McGuire, sekretaris jenderal Brotherhood of Carpenters and Joiners dan salah satu pendiri Federasi Tenaga Kerja Amerika. Kemungkinan penggagas lainnya adalah Matthew Maguire, seorang ahli mesin, yang kemudian menjadi sekretaris lokal 344 dari International Association of Machinists di Paterson, N.J.

 

Hari Buruh pertama kali dirayakan oleh kota dan negara bagian setempat sebelum menjadi hari libur nasional. Hari Buruh pertama dirayakan pada hari Selasa, 5 September 1882, di New York City, menurut Departemen Tenaga Kerja. Itu diorganisir oleh Serikat Buruh Pusat New York, yang terdiri dari beberapa serikat buruh yang bekerja bersama untuk mencapai kondisi kerja yang lebih baik. Hari Buruh kedua diikuti setahun kemudian, pada 5 September 1883.

 

Hari Buruh bukan bagian dari akhir pekan tiga hari sampai 1884 ketika Senin pertama di bulan September dipilih sebagai hari libur, seperti yang awalnya diusulkan oleh Serikat Buruh Pusat, yang mendorong kota-kota dan negara-negara lain untuk menghormati pekerja juga. Dari 1885 hingga 1894, 32 negara meloloskan RUU untuk mengadopsi hari yang dirancang untuk menghormati pekerja.

 

Pada 28 Juni 1894, Kongres meloloskan undang-undang yang menetapkan hari Senin pertama di bulan September sebagai hari libur nasional yang sah.

 

 

 

Sejarah Hari Buruh Indonesia

Sejak 1918 hingga 1926, gerakan buruh mulai secara rutin memperingati Hari buruh sedunia itu, yang biasanya dibarengi dengan pemogokan umum besar-besaran. Hari buruh sedunia tahun 1923, misalnya, Semaun sudah menyampaikan kepada sebuah rapat umum VSTP (serikat buruh kereta api) di Semarang untuk melancarkan pemogokan umum. Dalam selebaran pemogokan yang disebarkan VSTV, isu utama yang diangkat mencakup: jam kerja 8 jam, penundaan penghapusan bonus sampai janji kenaikan gaji dipenuhi, penanganan perselisihan ditangani oleh satu badan arbitrase independen, dan pelarangan PHK tanpa alasan.

Pada tahun 1926, menjelang rencana pemberontakan PKI melawan kolonialisme Belanda, peringatan Hari Buruh ditiadakan. Pada saat itu, karena cerita mengenai rencana pemberontakan sudah menyebar dari mulut ke mulut, maka banyak pihak yang menduga peringatan Hari Buruh Internasional sebagai momen pecahnya pemberontakan.

Setelah meletus pemberontakan bersenjata pada tahun 1926 dan 1927, peringatan Hari Buruh Sedunia sangat sulit untuk dilakukan. Pemerintah kolonial mulai menekan serikat buruh dan melarang mereka untuk melakukan perayaan.

Peringatan Hari Buruh Sedunia kembali diperingati pada tahun 1946. Pada peringatan Hari Buruh tahun 1947 di Jogjakarta, sebuah dokumen Amerika bercerita bagaimana massa membawa spanduk bergambar palu-arit, photo wajah Karl Marx, Lenin, dan Stalin. Meski begitu, golongan kiri agak tersinggung karena sedikitnya golongan tentara yang ikut dalam perayaan itu.

Pada tahun 1948, kendati dalam situasi agresi militer Belanda, perayaan Hari Buruh Sedunia berlangsung besar-besaran. Saat itu, 200 ribu hingga 300 ribu orang membanjiri alun-alun Jogjakarta, untuk memperingati Hari Buruh Sedunia. Menteri Pertahanan, Amir Sjarifoeddin, memberikan pidato kepada massa buruh dan rakyat di alun-alun itu. Selain Amir, Menteri Perburuhan dan Sosial Kusnan dan Ketua SOBSI Harjono juga memberi pidato. Hatta dan Panglima besar Jend. Soedirman juga hadir dalam perayaan hari buruh ketika itu.

Dan, di tahun 1948, dikeluarkan UU Kerja nomor 12/1948 yang mengesahkan 1 Mei sebagai tanggal resmi hari Buruh. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No. 12 tahun 1948 dikatakan: “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja”.

 

Selain memberikan kebebasan para pegawai dari kewajiban bekerja, cara lain untuk membuat anggota karyawan bahagia adalah memberikan kemudahan dalam absensi, payroll, dan transparansi gaji dengan menggunakan aplikasi Atenda yang dapat diunduh dan digunakan secara gratis di Google Play dan App Store.

 

Baca Artikel Menarik Lainnya Dengan Klik Tulisan Ini.

Cintai bisnis anda dengan mudah.

Atur karyawan anda, dalam hitungan menit. Dimana pun. Kapan pun.